Senin, 16 Januari 2012

Makalah Filsafat Ilmu


MAKALAH
CARA KERJA ILMU-ILMU ALAM, SOSIAL-HUMANIORA, DAN AGAMA
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah: Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu: Drs. Usman, SS., M.Ag

Disusun Oleh:
Prahesti Surani
10411084
PAI-B

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALI JAGA
YOGYAKARTA
2011


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dewasa ini semakin disadari bahwa memahami dan memecahkan masalah sudah tak bisa lagi hanya didekati dari suatu sudut pandang saja, misalnya hanya dilihat dari faktor sosiologis, atau relugius bahkan yang lainnya, melainkan harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Ini berarti suatu disiplin ilmu tidak bisa lagi bekerja sendirian dalam memecahkan masalah, sebaliknya ia membutuhkan bantuan dari disiplin-disiplin ilmu lainnya.
Ilmu sendiri kedudukannya mendasar dalam kehidupan manusia. Hampir setiap aktivitas manusia dikendalikan oleh ilmu. Perkembangan ilmu sendiri sangatlah pesat mengiringi tingkat tuntunan kebutuhan manusia dari yang bersifat material, teknis, kemanusiaan, kemasyarakatan, sampai yang bersifat spiritual dan religius. Berdasarkan keragaman dan dinamika kebutuhan manusia ini, berkembanglah disiplin-disiplin ilmu, yakni ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial humaniora, dan ilmu-ilmu agama.
Ketiga disiplin ilmu tersebut, terutama terkait dengan sifat kajiannya, memiliki kekhasan epistimologi masing-masing. Kekhasan tersebut tergambar dalam cara-cara kerja ilmu tersebut. Masing-masing disiplin ilmu ini mempunyai cara kerja yang berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya. Berikut ini akan dibahas cara-cara kerja khas dariketiga disiplin ilmu tersebut.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian Filsafat Ilmu dan Ilmu Pengetahuan?
2.      Apa pengertian Ilmu Pengetahuan Alam dan bagaimana cara kerjanya?
3.      Apa pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial-Humaniora dan bagaimana cara kerjanya?
4.      Apa pengertian Ilmu Pengetahuan Agama dan bagaimana cara kerjanya?

C.     Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui pengertian Filsafat Ilmu dan Ilmu Pengetahuan.
2.      Mengetahui pengertian dan cara kerja Ilmu Pengetahuan Alam.
3.      Mengetahui pengertian dan cara kerja Ilmu Pengetahuan Sosial-Humaniora.
4.      Mengetahui pengertian dan cara kerja Ilmu Pengetahuan Agama.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Filsafat Ilmu dan Ilmu Pengetahuan

1.      Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga disebut epistimologi. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani yakni episcmc yang berarti knowledge, pengetahuan dan  logos yang berarti teori. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang membuat dua cabang filsafat yakni epistemology dan ontology (on = being, wujud, apa + logos = teori ), ontology ( teori tentang apa).
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tak-ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah yang disebut ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan yang telah disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa; sehingga memenuhi asas pengaturan secara prosedural, metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnya sehingga memenuhi kesahihan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. 
Sedang pengetahuan tak-ilmiah adalah yang masih tergolong prailmiah. Dalam hal ini berupa pengetahuan hasil serapan inderawi yang secara sadar diperoleh, baik yang telah lama maupun baru didapat. Di samping itu termasuk yang diperoleh secara pasif atau di luar kesadaran seperti ilham, intuisi, wangsit, atau wahyu (oleh nabi).

2.      Pengertian Ilmu Pengetahuan
Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Pengertian ilmu menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut :
1.      Ashley Montagu menyebutkan bahwa “Science is a systemized knowledge services form observation, study, and experimentation carried on under determine the nature of principles of what being studied.” (ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam suatu system yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip hal yang sedang dipelajari). 
2.      Harold H. titus mendefinisikan “Ilmu (Science) diartikan sebagai common science yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi yang teliti dan kritis). 
3.      Dr. Mohammad Hatta mendefinisikan “Tiap-tiap ilmu pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya, baik menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunannya dari dalam.” 
4.      Drs. H. Ali As’ad dalam buku Ta’limul Muta’allim menafsirkan ilmu sebagai :
“Ilmu adalah suatu sifat yang kalau dimiliki oleh seorang maka menjadi jelaslah apa yang terlintas di dalam pengertiannya”

Pengetahuan adalah pelbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal.Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Dari definisi diatas makan dapat dikatakan Ilmu pengetahuan secara etimologi merupakan kata bentukan yang berasal dari 2 kata yaitu ilmu dan pengetahuan. Ilmu adalah suatu hasil darti proses kerja otak, sedangkan pengetahuan yang berkata dasar tahu artinya sadar/insaf dengan penambahan afiksasi pe-an ( pengetahuan) menjadi kata benda artinya kumpulan dari hasil kesadaran manusia terhadap sesuatu. Misalnya kesadaran manusia terhadap fenomena alam maka muncul Ilmu alam, kesadaran manusia terhadap fenomena sosial maka muncul ilmu sosial, kesadaran manusia terhadap fenomena kebudayaan maka muncul ilmu budaya dan lain sebagainya.

B.     Ilmu Pengetahuan Alam
1.      Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu alam (bahasa Inggris: natural science; atau ilmu pengetahuan alam) adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dimana pun.
Sains (science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. "Real Science is both product and process, inseparably Joint" (Agus. S. 2003: 11)
Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhimya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Sains ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas.
Ilmu alam mempelajari aspek-aspek fisik & nonmanusia tentang Bumi dan alam sekitarnya. Ilmu-ilmu alam membentuk landasan bagi ilmu terapan, yang keduanya dibedakan dari ilmu sosial, humaniora, teologi, dan seni.
Matematika tidak dianggap sebagai ilmu alam, akan tetapi digunakan sebagai penyedia alat/perangkat dan kerangka kerja yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Istilah ilmu alam juga digunakan untuk mengenali "ilmu" sebagai disiplin yang mengikuti metode ilmiah, berbeda dengan filsafat alam. Di sekolah, ilmu alam dipelajari secara umum di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam(biasa disingkat IPA).
Tingkat kepastian ilmu alam relatif tinggi mengingat obyeknya yang kongkrit, karena hal ini ilmu alam lazim juga disebut ilmu pasti.
Di samping penggunaan secara tradisional di atas, saat ini istilah "ilmu alam" kadang digunakan mendekati arti yang lebih cocok dalam pengertian sehari-hari. Dari sudut ini, "ilmu alam" dapat menjadi arti alternatif bagi biologi, terlibat dalam proses-proses biologis, dan dibedakan dari ilmu fisik (terkait dengan hukum-hukum fisika dan kimia yang mendasari alam semesta).
Ilmu alam adalah ilmu yang membahas tentang gejala-gejala alam (gejala alam yang tidak hidup). Sifat ilmu alam adalah empiris, artinya gejala alam itu dianggap sebagai fenomena yang dapat dibuktikan secara indrawi, dan konkret.

2.      Kedudukan Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu berkembang dengan pesat, yang pada dasarnya ilmu berkembang dari dua cabang utama yaitu filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (the natural sciences) dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam ilmu-ilmu sosial (the social sciences). Ilmu-ilmu alam membagi menjadi dua kelompok yaitu ilmu alam (the physical sciences) dan ilmu hayat (the biological sciences) (Jujun. S. 2003). Ilmu alam ialah ilmu yang mempelajari zat yang membentuk alam semesta sedangkan ilmu hayat mempelajari makhluk hidup di dalamnya. Ilmu alam kemudian bercabang lagi menjadi fisika (mempelajari massa dan energi), kimia (mempelajari substansi zat), astronomi (mempelajari benda-benda langit dan ilmu bumi (the earth sciences) yang mempelajari bumi kita.

3.      Cabang Ilmu Pengetahuan Alam
Cabang-cabang utama dari ilmu alam adalah:
·         Astronomi ialah cabang ilmu alam yang melibatkan pengamatan benda-benda langit (seperti halnya bintang, planet, komet, nebula, gugus bintang, atau galaksi) serta fenomena-fenomena alam yang terjadi di luar atmosfer Bumi (misalnya radiasi latar belakang kosmik (radiasi CMB)).
·         Biologi ialah ilmu yang mempelajari aspek fisik kehidupan. Istilah "biologi" dipinjam dari bahasa Belanda, biologie, yang juga diturunkan dari gabungan kata bahasa Yunani, βίος, bios ("hidup") dan λόγος,logos ("lambang", "ilmu"). Istilah "ilmu hayat" dipinjam dari bahasa Arab, juga berarti "ilmu kehidupan". Obyek kajian biologi pada masa kini sangat luas dan mencakup semua makhluk hidup dalam berbagai aspek kehidupannya.
·         Ekologi ialah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos ("habitat") dan logos ("ilmu"). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.
·         Fisika ialah adalah sains atau ilmu tentang alam dalam makna yang terluas. Fisika mempelajari gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan waktu.
·         Geologi ialah Ilmu (sains) yang mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, dan proses pembentukannya.
·         Geografi fisik berbasis ilmu ialah ilmu yang mempelajari tentang lokasi serta persamaan dan perbedaan (variasi) keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan bumi.
·         Ilmu bumi ialah suatu istilah untuk kumpulan cabang-cabang ilmu yang mempelajari bumi.
·         Kimia ialah ilmu yang mempelajari mengenai komposisi, struktur, dan sifat zat atau materi dari skala atom hingga molekul serta perubahan atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi yang ditemukan sehari-hari.

4.      Cara Kerja Ilmu Pengetahuan Alam
Cara  Kerja ilmu alam dapat terlihat dari tiga contoh proses yang terdiri dari langkah-langkah pengamatan, percobaan, dan penentuan. Ketiga contoh tersebut dapat diamati dalam rangka sejarah penemuannya (context of discovery), dan dalam rangka upaya pembenaranya ( context of justification).
a.      Hipotesa
Hipotesa berfungsi untuk merumuskan suatu pemikiran agar menjadi hasil yang mendekati kebenaran nyata atau kesempurnaan hasil pengamatan dan percobaan. Secara analisis tertulis dapat menggunakan rumus silogisme yang telah dipelajari.
b.      Perluasan dan Perincian Hipotesa
Untuk membuktikan kesempurnaan hipotesis, maka harus diperluas dengan mencari kemungkinan lain agar tidak dikatakan salah. Kemudian disimpulkan kembali dengan perincian atau dimurnikan, contohnya hipotesa Kopernikus, yaitu planet-planet mengitari matehari secara lingkaran” diubah menjadi “....secara elipsa”.
c.       Dari Hipotesa Menuju Hukum Alam
Walaupun para ilmuan menganggap hal ini kurang empiris, namun hasil hipotesa yang ada dapat dikatakan sebagai hukum alam pada aspek-aspek yang natural, seperti atmosfer, perputaran bumi, suhu, dan lain-lain.
d.      Dari Hukum Alam Menuju Teori Ilmiah
Setelah melalui pembuktian teknologi atau dengan ilmu bumi maupun metereologi atau ilmu-ilmu lainya, maka hasil yang awalnya hanya pemikiran dan mampu sampai pada hukum alam, dapat menjadi teori ilmiah bila lulus uji percobaan dan dapat bersifat statis, kecuali setelah ada pembuktian baru. Maka hasil pemikiran tersebut dapat berfungsi sebagai kajian para pemikir selanjutnya.

Dalam sejarah perkembangan ilmu-ilmu, ilmu alam berkembang lebih awal dan pesat. Sejak di Yunani Kuno, sebelum filsafat muncul sebagai tradisi keilmuan baru, ilmu fisika, matematika, kimia dan astronomi telah lama menjadi perbincangan di antara pecinta ilmu. Hal ini wajar jika ditilik dari segi kedekatan hubungan manusia dengan dunia yang sifatnya fisikal dan material yang secara langsung mudah diamati dan diukur. Selain itu, manfaatnya yang bersifat praktis dan langsung bias dirasakan, seperti penemuan sepeda oleh orang yang menggunakannya. Manfaat itu bias dirasakan meski dilakukan dalam waktu yang berbeda. Ilmu-ilmu alam sudah barang tentu sangat penting bagi kehidupan manusia terutama untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan material dan praktis manusia.
Dilihat dari sifat objeknya, cara kerja ilmu alam bisa dirangkum dalam prinsip-prinsip seperti berikut:
a.      Gejala Alam Bersifat Fisik-statis
Seperti diperlihatkan dari segi namanya, ilmu-ilmu alam berkaitan dengan gejala-gejala alam. Ahli ilmu-ilmu alam berhubungan dengan gejala-gejala alam yang sifatnya fisik yang teramati dan terukur. Dari sifat tersebut, gejala-gajala alam memiliki sifat statis atau tetap dari waktu ke waktu. Karena statis jumlah variabel dari gejala alam sebagai objek yang diamati juga relatif lebih sederhana dan sedikit.
b.      Objek Penelitian Bisa Berulang
Karena sifat gejala-gejala alam fisikal-statis, penelitian dalam ilmu-ilmu alam tetap. Dengan sifat ini, objek penelitian dalam ilmu-ilmu alam bisa bisa diamati secara berulang-ulang oleh peneliti.
c.       Pengamatan Relatif Lebih Mudah dan Simpel
Pengamatan dalam ilmu-ilmu alam lebih mudah karena bisa dilakukan secara langsung dan bisa diulang kapanpun. Kata mengamati dalam ilmu alam lebih luas dari sekedar interaksi langsung dengan panca indera manusia, yang lingkup kemampuannya sangat terbatas. Untuk mengatasi keterbatasan ini manusia menggunakan alat-alat bantu seperti mikroskop, teleskop, dan sebagainya. Meskipun pengamatan dalam ilmu-ilmu alam dapat dilakukan berulang-ulang, namun dimungkingkan juga akan memiliki hasil yang berbeda tergantung dari cara pengamatan yang dipakai, meskipun secara umum cenderung seragam atau positif.
d.      Subjek Pengamat (Peneliti) Lebih sebagai Penonton
Prinsip pengamatan dalam ilmu-ilmu alam adalah positif objektif, artinya kebenarannya disimpulkan berdasarkan objek yang diamati. Dalam pandangan Henry Margenau, prinsip objektif ini menempatkan posisi ilmuwan alam lebih sebagai the cosmic spectator daripada the cosmic spectale. Ilmuwan alam adalah penonton alam, dia hanya mengamati alam dan kemudian memperlihatkan kepada orang lain hasil pengamatannya, di mana sedikitpun ia tidak melibatkan subjektivitasnya, tetapi sekedar menunjukan hasil tontonannya.
e.       Memiliki Daya Prediktif yang Relatif Lebih Mudah Dikontrol
Ilmu-ilmu alam sudah barang tentu tidak akan menarik apabila sebatas mengumpulkan informasi tentang gejala-gejala alam semata kemudian membangun teori, melainkan gejala-gejala alam yang diketahui dan dirumuskan dalam teori-teori itu bisa digunakan untuk memprediksikan kejadian-kejadian yang dimungkingkan akan timbul dari gejala-gejala tersebut.




C.    Ilmu Pengetahuan Sosial-Humaniora
1.      Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial
Ilmu sosial (Inggris:social science) atau ilmu pengetahuan sosial (Inggris:social studies) adalah sekelompok disiplin akademis yang mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya. Ilmu ini berbeda dengan seni dan humaniora karena menekankan penggunaan metode ilmiah dalam mempelajari manusia, termasuk metoda kuantitatif dan kualitatif. Istilah ini juga termasuk menggambarkan penelitian dengan cakupan yang luas dalam berbagai lapangan meliputi perilaku dan interaksi manusia di masa kini dan masa lalu. Berbeda dengan ilmu sosial secara umum, IPS tidak memusatkan diri pada satu topik secara mendalam melainkan memberikan tinjauan yang luas terhadap masyarakat.
Ilmu sosial, dalam mempelajari aspek-aspek masyarakat secara subjektif, inter-subjektif, dan objektif atau struktural, sebelumnya dianggap kurang ilmiah bila dibanding dengan ilmu alam. Namun sekarang, beberapa bagian dari ilmu sosial telah banyak menggunakan metoda kuantitatif. Demikian pula, pendekatan interdisiplin dan lintas-disiplin dalam penelitian sosial terhadap perilaku manusia serta faktor sosial dan lingkungan yang mempengaruhinya telah membuat banyak peneliti ilmu alam tertarik pada beberapa aspek dalam metodologi ilmu sosial. Penggunaan metoda kuantitatif dan kualitatif telah makin banyak diintegrasikan dalam studi tentang tindakan manusia serta implikasi dan konsekuensinya.
Karena sifatnya yang berupa penyederhanaan dari ilmu-ilmu sosial, di Indonesia IPS dijadikan sebagai mata pelajaran untuk siswa sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah tingkat pertama (SMP/SLTP). Sedangkan untuk tingkat di atasnya, mulai dari sekolah menengah tingkat atas (SMA) dan perguruan tinggi, ilmu sosial dipelajari berdasarkan cabang-cabang dalam ilmu tersebut khususnya jurusan atau fakultas yang memfokuskan diri dalam mempelajari hal tersebut.



a)      Cabang Ilmu Pengetahuan Sosial
·         Antropologi, yang mempelajari manusia pada umumnya, dan khususnya antropologi budaya, yang mempelajari segi kebudayaan masyarakat
·         Ekonomi, yang mempelajari produksi dan pembagian kekayaan dalam masyarakat
·         Geografi, yang mempelajari lokasi dan variasi keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan bumi
·         Hukum, yang mempelajari sistem aturan yang telah dilembagakan
·         Linguistik, yang mempelajari aspek kognitif dan sosial dari bahasa
·         Pendidikan, yang mempelajari masalah yang berkaitan dengan belajar, pembelajaran, serta pembentukan karakter dan moral
·         Politik, yang mempelajari pemerintahan sekelompok manusia (termasuk negara)
·         Psikologi, yang mempelajari tingkah laku dan proses mental
·         Sejarah, yang mempelajari masa lalu yang berhubungan dengan umat manusia
·         Sosiologi, yang mempelajari masyarakat dan hubungan antar manusia di dalamnya

b)     Ruang Lingkup Pengetahuan Sosial
                                                  i.      Sistem sosial dan budayaManusia, tempat, dan lingkungan
                                                ii.      Perilaku ekonomi dan kesejahteraan
                                              iii.      Waktu, keterlanjutan, dan perubahan
                                              iv.      Sistem berbangsa dan bernegara.

2.      Pengertian Ilmu Pengetahuan Humaniora
Menurut bahasa latin, humaniora disebut artes liberales yaitu studi tentang kemanusiaan. Sedangkan menurut pendidikan Yunani Kuno, humaniora disebut dengan trivium, yaitu logika, retorika dan gramatika. Pada hakikatnya humaniora adalah ilmu-ilmu yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup etika, logika, estetika, pendidikan pancasila, pendidikan kewarganegaraan, agama dan fenomenologi.

3.      Cara Kerja Ilmu Pengetahuan Sosial-Humaniora
Berbeda dengan ilmu alam, ilmu sosial humaniora berkembang lebih kemudian dan perkembangannya tidak sepesat ilmu alam. Hal ini karena objek kajian ilmu sosial humaniora tidak sekedar sebatasfisikdan material tetapi lebih dibalik fisik dan material dan bersifat abstak dan psikologis.
Diliha dari sifat objeknya, cara kerja ilmu sosial humaniora bisa dirangkum dalam prinsip-prinsip berikut:
a.      Gejala Sosial Humaniora Bersifat Non Fisik, Hidup, dan Dinamis
Gejala-gejala yang diamati dalam ilmu sosial humaniora bersifat hidup dan bergerak secara dinamis. Objek studi ilmu sosial humaniora adalah manusia yang lebih spesifik lagi pada aspek sebelah dalam.
b.      Objek Penelitian Tidak Bisa Berulang
Gejala-gejala sosial humaniora memiliki keunikan-keunikan dan kemungkinan bergerak dan berubahnya sangat besar, karena mereka tidak stagnan dan tidak statis. Masalah sosial dan kemanusiaan sering bersifat sangat spesifik dalam konteks historis tertentu. Kejadian sosial mungkin yang dulu pernah terjadi barangkali secara mirip bisa terulang dalam masa sekarang atau nanti. Dengan demikian gejala-gejala sosial humaniora cenderung tidak bisa ditelaah secara berulang-ulang, karena gejala-gejala tersebut bergerak seiring dengan dinamika konteks historisnya.
c.       Pengamatan Relatif Lebih Sulit dan Kompleks
Karena yang diamati oleh ilmu sosial humaniora adalah apa yang dibalik penampakan fisik dari manusia dan bentuk-bentuk hubungan sosial mereka. Misalnya melihat seseorang tersenyum pada orang lain adalah hal yang wajar dalam kehidupan sehari-hari, tetapi makna senyum itu bisa bermakna banyak, bisa jadi dia senang pada orang yang dilihatnya, boleh jadi dia tidak suka tetapi terpaksa tersenyum karena dia tidak ingin kelihatan sebagai orang yang tidak baik dimata orang-orang disekitarnya, dan bisa juga tersenyum karena orang yang dilihatnya lucu dan aneh. Oleh karena itu variabel dalam penelaah sosial humaniora relatif lebih banyak dan kompleks serta kadang-kadang membingungkan.
d.      Subjek Pengamat juga sebagai Bagian Integral dari Objek yang Diamati
            Dalam ilmu sosial humaniora karena subjek yang mengamati dan objek yang diamati adalah manusia yang memiliki motif dan tujuan dalam setiap langkah lakunya, maka subjek yang mengamati tidak mungkin bisa mengambil jarak dari objek yang diamati dan menerapkan prinsip objektivistik, dan tampaknya lebih condong ke prinsip subjektivistik. Karena subjek yang mengamati adalah manusia yang memiliki kecendrungan nilai tertentu tentang hidup maka ia menjadi bagian integral dari objek yang diamati yang juga manusia itu.
e.       Memiliki Daya Prediktif yang Relatif Lebih Sulit dan Tak Terkontrol
Suatu teori sebagai hasil pengamatan sosial humaniora tidak serta merta bisa dengan mudah untuk memprediksikan kejadian sosial humaniora berikutnya pasti akan terjadi. Hal ini dikarenakan dalam ilmu sosial humaniora, pola-pola perilaku sosial humaniora yang sama belum tentu akan mengakibatkan kejadian yang sama.

D.    Ilmu Pengetahuan Agama
1.      Pengertian Ilmu Pengetahuan Agama
Pengetahuan agama yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama. Pengetahuan agama mengandung beberapa hal yang pokok yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan, yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia, yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal.
2.      Cara Kerja Ilmu Pengetahuan Agama
Ilmu-ilmu agama adalah juga suatu disiplin ilmu yang penting dalam kehidupan manusi. Barangkali ia berkembang sejak jaman dulu ketika manusia dihadapkan pada kekuatan-kekuatan adikodrati yang dia alami dalam hidupnya. Oleh karena itu, ilmu-ilmu agama juga memiliki cirri ilmiah, dan sudah pasti ciri ilmiahnya memiliki kekhasan dibandingkan ilmu alam dan ilmu sosial humaniora, meski dalam tingkatan tertentu menunjukkan suatu kesamaan. Cara keraja ilmu agama di bawah ini:
a.      Gejala Keagamaan sebagai Ekspresi Keimanan dan Pemahaman atas Teks Suci
Gejala keagamaan jelas tampak pada perilaku-perilaku keagamaan orang beragama, dan pada karya-karya seni dan budaya meski intinya juga ekspresi dari penghayatan keagamaan orang beragama. Gejala keagamaan merupakan sesuatu yang bergerak, tidak statis. Dalam ilmu keagamaan, gejala keagamaan selalu merupakan ekspresi dari keimanan dan pemahaman dari keagamaan.
Objek kajian dalam ilmu agama tidak jauh beda dengan objek ilmu sosial humaniora, yaitu manusia. Tetapi dalam ilmu agama lebih spesifik lagi yang dikaji, yakni manusia beragama dan lebih fokus pada inner worldnya yang sudah pasti yang dimaksud di sini adalah aspek keimanan teologisnya, seperti paham ketuhanannya dan implikasinya pada perilaku sosial kemanusiaannya, dan pemahaman keagamaan yang dibangun oleh manusia beragama.
b.      Objek Penelitian Unik dan Tak Bisa Diulang
Objek penelitian unik karena menyangkut keyakinan keagamaan. Keyakinan keagamaan dalam ilmu agama dijadikan sumber pengamatan mengapa muncul perilaku sosial orang tertentu beragama. Ini berarti yang menjadi objek penelitian ilmu-ilmu agama adalah menyangkut perilaku orang yang beragama dan juga teks-teks suci keagamaan yang diyakini orang beragama. Sebagaimana tercermin dalam perilaku keagamaan orang beragama pada kurun waktu dan tempat tertentu tidak mungkin bisa direkonstruksikan orang sesudahnya persis kejadian pada awalnya. Jelas berbeda dengan mengamati benda-benda mati.
c.       Pengamatan Sulit dan Kompleks dengan Interpretasi Teks-teks Suci Keagamaan
Pengamatan dalam ilmu agama sulit dan kompleks, karena melihat dan memaknai apa yang ada dibalik kegiatan dan perilaku fisik dan empiris manusia beragama. Karena kegiatan tersebut adalah bentuk ekspresif dari keimanan mereka pada Tuhan sebagai hasil pemahaman mereka terhadap teks-teks suci yang diyakini , pengamatan dalam ilmu agama juga harus “menyelami” dan menginterpretasikan item-item dalam teks-teks suci terkait dengan fenomena kegiatan dan perilaku manusia beragam yang bisa ditangkap.

d.      Subjek Pengamat juga sebagai Bagian Integral dari Objek yang Diamati
Pengamat dalam ilmu agama tidak bisa dilepaskan dan merupakan bagian integral dari objek yang diamati adalah aktivitas-aktivitas keagamaan. Bahkan ketika mengkaji teks-teks keagamaan hasil interpretasi atas teks-teks suci, seorang pengamat pasti juga terlibat secara emosonal dan rasinal dalam memahami dan menyimpulkan makna mereka.
e.       Memiliki Daya Prediktif yang Relatif Lebih Sulit dan Tak Terkontrol
Sebuah teori sebagai hasil pengamatan terhadap aktivitas-aktivitas keagamaan tidak serta merta bisa dengan mudah meramalkan aktivitas-aktifitas keagamaan lainnya yang akan terjadi. Hal ini dikarenakan dalam ilmu agama, pola-pola perilaku keagamaan yang sama belum tentu akan mengakibatkan kejadian-kejadian berikutnya yang sama. Meski demikian, bukan berarti hasil temuan dalam ilmu agama tidak bisa dipakai sama sekali untuk meramalkan kejadian-kejadian yang bersifat religius lain sebagai akibatnya dalam waktu dan tempat yang berlainan, tetap bisa tetapi tidak mungkin sepasti dan semudah dalam ilmu-ilmu alam. Dalam ilmu agama harus dipertimbangkan keragaman dan pemahaman orang-orang beragama terhadap ajaran agama mereka, dan hal ini menambah daya prediktif ilmu-ilmu agama semakin sulit untuk dipastikan.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan:
Sangat jelas seperti yang dijelaskan di atas bahwa setiap disiplin ilmu mempunyai cara kerja yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, perbedaan itu bisa dilihat dari objek yang diamati dan kebenarannya dalam mengkaji objek kajian tersebut.
Dalam ilmu alam, objek yang dikaji adalah benda mati yang mana pengamatannya bisa dilakukan berulang-ulang dan kebenarannya bisa dilihat pada sebuah penelitian yang dilakukan. Berbeda dengan ilmu sosial humaniora, karena objek yang dikaji adalah manusia yang mana bisa berubah-ubah dalam setiap waktunya, sehingga kebenarannya tidak hanya bisa dilihat dari sebuah pengamatan karena manusia sendiri sebagai objek kajian dalam ilmu sosial humaniora dalam melakukan aktivitasnya mempunyai arti yang bervariasi, sehingga hasil pengamatannya menghasilkan beberapa hasil yang bervariasi juga. Berbeda pula dengan ilmu agama, yang dikaji dalam ilmu agama adalah melihat dan memaknai apa yang ada dibalik kegiatan dan perilaku fisik dan empiris manusia beragama. Karena kegiatan tersebut adalah bentuk ekspresif dari keimanan mereka pada Tuhan. Oleh karena itu hasil pengamatannya sulit untuk dipastikan.









DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku:
Verhaak, C. Dan Haryono Imam. 1997. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Gramedia.
Vardiansyah, Dani. 2008. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Indeks, Jakarta.
Filsafat Ilmu.,2005. Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga-Yogyakarta.
Drs. Sudarto.1996. Metodologi Penelitian Filsafat.,Raja Grafindo Persada-Jakarta.

Sumber Internet:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar